Kali ini gue mo ngomong serius. Sudah sejak bertahun-tahun lalu gue membaca artikel-artikel yang ditulis oleh para feminis yang juga pakar media mengenai iklan pemutih wajah. Intinya: diskriminasi! Diskriminasi terhadap tampilan fisik, yang kemungkinan besar bawaan lahir yang tidak mungkin diubah, kecuali dengan cara-cara yang tidak alami.Bahasannya ada yang menggunakan kajian poskolonial, bagaimana kita masih saja terjajah: tampilan bule superior, sedangkan tampilan pribumi inferior.
Tentu saja bahasannya ada yang mengenai kekejaman bisnis, bagaimana self-esteem perempuan dikorbankan untuk menjual produk sebanyak mungkin.
And how could I think that after all that, para pengiklan akan sedikit terbangkit hati nuraninya?
Iklan salah satu pemutih wajah terakhir jelas-jelas menyatakan bahwa cewek kulit hitam jomblo terus dan nggak punya pacar, sampai ia pakai produk itu, dan akhirnya dia dikejar-kejar banyak cowok, karena sekarang dia lebih putih. Kemudian, ada lagi iklan pemutih wajah yang bintangnya Marini Zumarnis yang nampilin pendapat pria-pria yang bilang kalo cantik itu = putih. ugh!
I’m sick. Gue mual. Gue mual karena nonton iklan setengah menit. Gue mual karena marah. Gue mual karena muak.
Ada iklan-iklan yang sedikit gue hargai, karena menurut gue iklan tersebut tidak berusaha mendoktrin nilai-nilai terhadap kulit putih. Iklan tersebut hanya berdasar pada kenyataan bahwa kulit putih adalah dambaan sebagian besar perempuan Indonesia, dan produk akan membantu mencapai keinginan tersebut. Jadi iklan tersebut mengandalkan hasrat yang memang sudah ada, namun tidak berusaha menciptakan hasrat itu.
Sedangkan beberapa iklan jelas-jelas berusaha membangun nilai bahwa kulit putih lebih baik, lebih menarik, menguntungkan, daripada kulit putih, dan lebih buruk lagi, membangun nilai bahwa kulit hitam itu buruk, sama sekali tidak menarik, dan membuat lo jomblo.
Pendekatan gue adalah pendekatan seorang perempuan dari sebuah sudut pandang yang tidak merasa perlu berbenturan dan ‘mencurigai’ laki-laki, tapi lebih kepada sebuah kecurigaan atas motivasi apa di balik benak laki-laki dan perempuan ketika mereka berpikir dan bersikap. Kecurigaan atas sebuah pandangan atau isme tertentu di balik sikap baik laki-laki dan perempuan yang begitu mengagungkan ke-putih-an sebagai standard kecantikan.
Indonesia yang berkulit tidak putih, laki-laki hadir memperburuk kondisi ini. Ia memperkukuh anggapan bahwa perempuan cantik adalah perempuan dengan kulit putih. Hal ini terbuktikan dengan banyaknya ‘sharing’ kepada gue bahwa ‘the most wanted women’ adalah mereka yang berkulit putih. Dan beberapa lingkaran pertemanan gue juga menunjukkan gejala tersebut dengan menyebutkan salah satu syarat perempuan yang diinginkan laki-laki adalah yang berkulit putih.

